Wisata Kuliner Sidoarjo: Dawet Beras Segar dengan Topping Durian dan Tape
Dawet Beras Sidoarjo hadirkan cita rasa autentik minuman tradisional dengan topping nangka, tape, dan durian segar yang menggoda.
Memuat...
Kampung Lali Gadget di Sidoarjo ajak anak tinggalkan layar dan kenal permainan tradisional. Edukasi berbasis alam, budaya, dan keterlibatan orang tua.
SIDOARJOUPDATE, WONOAYU — Di tengah maraknya penggunaan gawai oleh anak-anak, sebuah inisiatif edukatif lahir dari Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Sebuah yayasan bernama Kampung Lali Gadget hadir sebagai ruang alternatif yang memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda, sekaligus mengajak mereka menjauh sejenak dari kecanduan layar.
Kampung Lali Gadget bukan sekadar tempat bermain, tetapi menjadi ruang eksplorasi yang penuh edukasi. Di sana, anak-anak diajak mengenal permainan tradisional, memanfaatkan bahan-bahan alam, hingga membuat mainan dari hasil daur ulang.
“Di Kampung Lali Gadget, kami mengenalkan permainan lewat beberapa tema, seperti tema air, pasir, daun, hingga batu,” ujar Gista, salah satu anggota tim Kampung Lali Gadget.
Ia menjelaskan, setiap tema menghadirkan aktivitas berbeda. Misalnya, pada tema daun, anak-anak belajar membuat wayang dan kalung dari daun singkong. Pada tema pasir, mereka diajak membangun menara atau membuat kolase. Di tema batu, tersedia permainan seperti wenga dan damparan. Sementara pada tema tanah lapang, anak-anak kembali akrab dengan gobak sodor, petak umpet, hingga eklek.

Selain permainan bertema, Kampung Lali Gadget juga menyediakan berbagai wahana permainan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat. Mulai dari dakon, gasing, bakiak panjang, egrang, hingga permainan kecil seperti suwitan, etek-etek, dan kitiran warna-warni—yang menjadi ikon khas dari Kampung Lali Gadget.
“Kami memang mengusung konsep bermain sambil belajar dengan pendekatan alam dan budaya. Anak-anak bisa bebas berkreasi tanpa terpaku pada layar gadget,” kata Gista.
Program Kampung Lali Gadget menyasar anak-anak sekolah, khususnya mereka yang sudah mulai menunjukkan gejala kecanduan gadget. Selain itu, inisiatif ini juga terbuka bagi sekolah-sekolah yang ingin mengadakan kegiatan outdoor learning dengan suasana khas pedesaan.
Gista menambahkan, kegiatan Kampung Lali Gadget tidak hanya dilakukan di satu tempat. Timnya juga aktif mengunjungi sekolah-sekolah atau menerima kunjungan dari rombongan pelajar.

“Di area kami, ada balai pendopo, kebun, sawah, dan kolam. Anak-anak bisa bermain lumpur, menangkap ikan lele, dan belajar dari alam secara langsung. Suasananya seperti desa wisata,” tuturnya.
Tak hanya anak-anak, orang tua pun menjadi sasaran kegiatan edukatif di Kampung Lali Gadget. Menurut Gista, peran ibu sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini.
“Kami juga menggelar kegiatan parenting gratis untuk para ibu. Kami ingin para orang tua, terutama ibu, ikut sadar akan bahaya kecanduan gadget. Mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anak,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tempat bermain, Kampung Lali Gadget berupaya melestarikan permainan tradisional yang kini kian terlupakan. Gista berharap, ke depan semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mendukung gerakan ini.
“Harapan kami, Kampung Lali Gadget bisa menjadi wadah bagi perempuan dan ibu-ibu untuk kembali mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Ini warisan budaya yang penting untuk dijaga agar tidak punah di tengah arus digitalisasi,” pungkasnya. (RM/SN/SU.id)
Sumber: kominfo.jatimprov.go.id
Dawet Beras Sidoarjo hadirkan cita rasa autentik minuman tradisional dengan topping nangka, tape, dan durian segar yang menggoda.
Cari tempat nyore Sidoarjo yang cozy? Temukan kafe kekinian dengan pemandangan sunset di sawah, working space nyaman, hingga spot unik melihat pesawat.
Petis, Reog, dan Bandeng menjadi tiga simbol khas Sidoarjo yang mendunia, merepresentasikan kekayaan kuliner, budaya, dan perikanan Jawa Timur.