Memuat...

  • 19 May 2026 01:46 PM

Musim Pancaroba, Ini 9 Penyakit yang Sering Menyerang Anak dan Balita

Musim Pancaroba, Ini 9 Penyakit yang Sering Menyerang Anak dan Balita

Musim pancaroba bikin anak mudah sakit. Kenali 9 penyakit yang sering menyerang bayi dan balita saat cuaca tidak menentu agar bisa dicegah sejak dini.

SIDOARJOUPDATE - Musim pancaroba menjadi masa yang rawan terhadap berbagai penyakit, terutama bagi bayi dan anak-anak. Sistem kekebalan tubuh mereka yang belum sekuat orang dewasa membuat mereka lebih mudah terserang virus, bakteri, maupun jamur penyebab penyakit.

Musim pancaroba sendiri adalah masa pergantian dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya, yang ditandai dengan angin kencang, suhu udara tidak stabil, dan curah hujan tidak menentu.
Kondisi tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit.

Menurut Dr. Modi dari Piedmont Healthcare, perubahan cuaca ekstrem dapat menjadi tantangan bagi sistem imun tubuh.

“Saat tubuh terbiasa dengan satu suhu, perubahan mendadak bisa membuat tubuh kesulitan beradaptasi sehingga lebih mudah sakit,” jelasnya.

Berikut daftar penyakit yang umum dialami oleh anak, termasuk balita dan bayi, ketika musim pancaroba tiba.

1. Influenza

Virus influenza berkembang lebih cepat pada suhu dingin dan menyerang sistem pernapasan bagian atas, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
Gejalanya antara lain batuk, pilek, dan hidung tersumbat. Anak di bawah lima tahun lebih rentan mengalami komplikasi akibat flu.

2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang menyebar melalui percikan air liur atau sentuhan benda terkontaminasi.
Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan nyeri otot. Sistem imun anak yang belum sempurna membuat mereka lebih mudah terserang ISPA.

3. Asma dan Bronkitis

Udara dingin dan serbuk sari yang beterbangan saat pergantian musim bisa memicu asma dan bronkitis pada anak.
Selain itu, suhu panas juga bisa meningkatkan kadar ozon di udara, yang berisiko memperburuk kondisi pernapasan pada anak.

4. Alergi Musiman

Serbuk sari dari tumbuhan yang terbawa angin dapat menyebabkan alergi pada anak, ditandai dengan bersin-bersin, hidung gatal, dan mata berair.
Cuaca hangat mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kadar serbuk sari di udara.

5. Diare

Penyakit ini muncul akibat makanan atau air yang terkontaminasi virus dan bakteri.
Anak akan mengalami buang air besar encer dan bisa berisiko dehidrasi bila tidak segera ditangani.
Biasanya, diare berlangsung 5–7 hari dan bisa memburuk pada balita.

6. Tipes

Bakteri Salmonella typhi yang mencemari makanan atau minuman dapat menyebabkan tipes.
Gejalanya meliputi demam tinggi pada sore hari, sakit perut, dan diare.
Penanganan sejak awal penting untuk mencegah komplikasi serius.

7. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Musim pancaroba sering disertai genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
DBD menyebabkan demam tinggi, nyeri sendi, mual, dan munculnya bintik merah di kulit.
Kasus DBD meningkat tajam setiap pergantian musim di Indonesia.

8. Chikungunya

Seperti DBD, chikungunya juga disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Gejalanya berupa demam, nyeri sendi, sakit kepala, dan ruam kulit.
Pada beberapa kasus, infeksi chikungunya dapat menyebabkan kelumpuhan sementara pada tubuh anak.

9. Penyakit Lyme

Penyakit ini disebabkan oleh gigitan kutu pembawa bakteri yang masuk ke aliran darah anak.
Gejalanya bisa berupa ruam kulit, demam, nyeri otot, hingga gangguan saraf.
Anak lebih rentan karena sering bermain di luar ruangan dan belum mampu melindungi diri sepenuhnya.


Tips Mencegah Penyakit Musim Pancaroba pada Anak

Agar anak tetap sehat selama musim pancaroba, orang tua dapat melakukan langkah-langkah pencegahan berikut:

  1. Jaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk rajin mencuci tangan dan membuang sampah pada tempatnya.
  2. Berikan asupan bergizi seimbang serta hindari makanan cepat saji.
  3. Pastikan anak cukup tidur dan minum air putih untuk menjaga hidrasi tubuh.
  4. Ajak anak berolahraga ringan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  5. Hindari paparan alergen, seperti debu, serbuk sari, dan bulu hewan.
  6. Kelola stres anak, karena kondisi mental juga memengaruhi sistem imun.

Dengan menjaga pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan, anak dapat memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat meskipun berada di tengah cuaca yang tidak menentu. (RM/SN/*hellosehat)