Memuat...

  • 04 February 2026 09:27 AM

Gubernur Jatim Apresiasi Penanganan Musibah Al Khoziny di Sidoarjo

Gubernur Jatim Apresiasi Penanganan Musibah Al Khoziny di Sidoarjo

Gubernur Khofifah memuji respon cepat penanganan musibah Al Khoziny di Sidoarjo dan berharap pelajaran untuk keamanan lingkungan pesantren.

SIDOARJOUPDATE - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi semua pihak dalam penanganan musibah Al Khoziny, menyusul runtuhnya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan 67 orang dan melukai 104 lainnya.

Musibah terjadi ketika struktur musala di pondok pesantren tersebut roboh secara mendadak, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Total korban yang meninggal mencapai 67 orang, termasuk ditemukan delapan bagian tubuh (body part), sementara 104 korban lainnya berhasil selamat.

Khofifah menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan duka mendalam bagi Jawa Timur sekaligus pengingat bagi seluruh pihak agar semakin ketat dalam memastikan standar keamanan bangunan di lembaga pendidikan agama.

penerima-apresiasi.jpg

Dalam momen Upacara Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur, Gubernur Khofifah memberikan penghargaan kepada berbagai unsur yang aktif dalam proses evakuasi dan penanganan musibah Al Khoziny:

  • Tim Basarnas
  • BNPB
  • TNI
  • Polri
  • Rumah Sakit Umum Daerah R.T. Notopuro Sidoarjo
  • Tim DVI Polda Jawa Timur

Salah satu penerima penghargaan adalah Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Christian Tobing, atas peran dan dedikasinya dalam operasi SAR musala yang runtuh.

Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol. Christian Tobing, menyatakan:

“Kami turut berduka atas kejadian ini… Semoga keluarga korban mendapat ketabahan menghadapi ujian ini.”

Khofifah berharap tragedi ini menjadi momentum untuk evaluasi menyeluruh terhadap standar konstruksi bangunan pendidikan, agar kejadian serupa tidak terulang.

Untuk mencegah runtuh musala serupa dan menjaga keselamatan santri, berikut rekomendasi penting:

  • Penilaian struktural berkala oleh tim ahli
  • Pengawasan kualitas material dan konstruksi
  • Standar darurat dan evakuasi jelas
  • Penerapan regulasi bangunan pesantren dari pemerintah daerah
  • Sosialisasi keamanan bagi pihak pesantren dan masyarakat

Dengan kolaborasi berkelanjutan dan keseriusan dalam penerapan safety building, insiden tragis seperti musibah Al Khoziny bisa diminimalkan. (*)